Iklan
UPDATE

Pentas Seni yang ‘Tak Berseni’

#PopNoteRecovery

Pentas Seni yang ‘Tak Berseni’ Pentas Seni yang ‘Tak Berseni’ [sumber: pexels.com]

Sekolah – Pentas Seni yang ‘Tak Berseni’Tadi pagi, ada Pentas Seni di sekolahku. Tapi, entah mengapa, saya tidak merasa bahwa itu adalah pentas seni. Ya, seperti ‘pentas seni’ yang ‘tanpa seni’Halo, selamat sore. Kali ini saya akan bercerita sedikit mengenai acara pensi yang diadakan di sekolahku. Iya, saya sedikit menuang pendapat saya di notes ini. Nah, ada apa saja di sana? Entahlah, baca saja kelanjutannya…

Pagi-pagi jam 5.00 saya sudah bersiap untuk menghadiri acara pentas seni yang diadakan di sekolahku. Ya, hari ini jam setengah delapan pagi, acara yang digagas oleh tim ekstrakulikuler seni di sekolahku akan dimulai. Setelah selesai berpakaian, teman saya Yogas katanya mau berangkat bareng dengan saya. Dan, di pesan singkatnya, ia bilang mau ngumpul di depan rumah saya. Tapi, gak lama kemudian dia sms lagi, katanya gak jadi berangkat bareng. Hmmph… Ya sudah.

Dan setelah waktu menunjukan pukul 7 lewat 5 menit-an, saya segera berangkat. Oh iya, sebelum itu, saya dititipi sekantung plastik mangga hasil panen kebun kami. Kata ibuku, tolong kasih ke keluarganya pak Nyoman (keluarganya si Made…). Ya sudah, saya pun segera memacu sepeda motorku.

Eh iya, saya juga bareng sama sahabat saya Iqbal. Dia minta tolong untuk berangkat bareng saya ke pensi. Setelah menuju perempatan dekat rumahnya Iqbal, ternyata dia udah nungguin. Dan, saya dengannya pun segera menuju ke rumah si Made dulu, baru ke sekolah.

Sampai di rumah Made, saya langsung menyerahkan mangga itu ke Made-nya langsung (karena, kebetulan dia yang keluar rumah). Tidak lama-lama sih, hanya sekedar basa-basi sebentar, lalu saya pamit mau ke sekolah. Eh, pas saya sedang ngobrol dengan Made, si Iqbal ternyata turun dari motor dan sembunyi. Katanya gak mau ganggu kami berdua… Hehehe…

Oke, kami pun sampai di sekolah, kira-kira jam setengah delapanan. Seharusnya sih acara sudah dimulai, dan yang datang banyak. Tapi, kok yang datang baru sedikit sih. Untuk parkir motor, ternyata harus diluar pagar sekolah. Tapi untungnya sudah ada yang jaga, mana bayar parkirnya mahal amat, 2000 rupiah!

Segeralah kami masuk ke gerbang sekolah. Dan taraaa… Ternyata kami harus melewati serangkaian tes untuk bisa masuk ke dalam! Mulai dari mengisi absen, menunjukan tiket seharga 18000 rupiah, diperiksa tubuhnya kalau-kalau kami membawa barang mencurigakan (emang kami bawa bom apa?!), menyerahkan tiket kami untuk disobek oleh petugas loket (tanda bahwa kami telah masuk dengan membawa tiket), dan akhirnya kami harus merelakan leher (iya, leher!) kami di ‘cap’ plus mencelupkan jari ke tinta seperti pemilu (tanda bahwa kami masuk secara legal).

Dan, setelah melawati tes ‘keamanan yang berlebihan’ itu, kami pun segera duduk di depan kelas. Iya, bahkan gak ada kursi atau apalah itu untuk tempat duduk penonton (masa’ aku disuruh nonton pensi sambil jingkrak-jingkrakan kayak alay sih?!). Oke, itu saya maklumi, dan tanpa ngedumel, saya duduk manis di depan kelas, di lantai semen.

Hmm… Ternyata ada keterlambatan acara, tapi, siapa peduli, toh saya cuma kesini hanya untuk sekedar absen aja kok. Dan acara pun dimulai, sebagai pembukanya, grup marching band sekolah kami menampilkan atraksinya. Ya, menurut saya itu pembukaan yang tidak terlalu buruk. Lalu acara dilanjuti oleh grup musik angklung yang diiringi oleh gitar. Haduh, haduuuh… Ini yang lebih dominan malah suara gitar listriknya daripada suara angklungnya!!!

Setelah itu, tampillah teman saya Yunas yang bersama grup kelasnya, membawakan tarian Saman, tari tradisional Aceh. Wih, saya kagum dengan mereka, karena ‘katanya’ ini adalah pertama kalinya pensi di sekolahku menampilkan seni tari dari Aceh ini! Oke, lalu acara dilanjuti oleh sambutan dari kesiswaan, lalu oleh ketua pelaksana pensi. DAAAAAN, acara yang sebenarnya dimulai. Yap, musik dengan suara super berisik alias band-band kelas mulai menunjukan bakatnya ‘membuat telinga pecah’.

Haduuuh, entah mengapa saya lama-lama pusing juga mendengar suara gitar, bas, dan drum yang sangat memekakkan telinga itu. Apalagi, pengeras suara yang dipasang ukurannya sebesar lemari semua, dan banyak lagi!!! Dan, kata teman saya sih, ternyata acara pensi itu tidak mendapatkan bantuan dana dari sekolah. Sehingga, mereka (anggota ekstrakulikuler kesenian) harus mencari dana utama dari berbagai sumber, seperti mencari sponsor, donatur, bahkan mereka rela ‘mengamen’ ke kelas-kelas. Kasihan.

Oke, saya pun bertemu dengan si Yogas dan Yunas. Kami segera berbincang-bincang (maksudnya ngobrol) mengenai pensi tadi. Dan, tak lama, pas saya lihat ke arah jam di ponsel, waktu sudah menunjukan pukul sepuluh. Dan karena saya sudah merasa sangat, sangat bosan, maka saya memutuskan untuk pulang.

Katanya si Yunas sih, belum boleh pulang. Tapi, saya tetap mau pulang! Dan, saya pun mengajak juga si Iqbal untuk pulang. Eh, pas sampai di gerbang sekolah, kami dicegat oleh panitia pensi! Dan dengan sedikit beralasan, kami pun akhirnya diijinkan pulang. Iya, si Iqbal bilang bahwa dia sakit perut.

Setelah kami keluar gerbang, saya tanya si Iqbal, dia tadi hebat bohongnya. Eh, kata dia, tadi dia emang sakit perut kok, bahkan sebelum dia bilang bohong ke panitianya. Hihihi… Saya pun segera ambil motor, dan langsung pulang. Oke, jadi kesimpulan dari acara pentas seni ‘menurut saya’, kurang berasa seninya! Ya, mungkin saya cuma bisa menikmati acaranya pas pertunjukan tari Saman-nya aja. Selebihnya, tidak! Saya udah cukup melakukan ‘terapi-telinga-hampir-budek’ dengan pertunjukan musik band-band kelas.

Dan, walaupun sudah ada bintang tamu seperti Peewee Gaskins dan Last Child (entahlah, saya gak tau itu band musik apa, yang jelas saya gak suka!) yang akan tampil sore ini jam tigaan (gila kali ya?! masa’ kami disuruh panas-panasan sambil jingkrak-jingkrak cuma buat nonton band gak jelas begitu??!!), tetap saja saya gak merasa bahwa itu bisa membuat saya betah berlama-lama di acara itu.

Dan, hmm… Saya jadi penasaran, apa ya tanggapan teman-teman saya yang lainnya mengenai acara ‘Pentas Seni yang Tak Berseni’ itu… Sungguh, saya rasa, acara ini bisa dibilang, ‘kurang’ berhasil.

Salam – Agung Rangga

Iklan

Apa komentarmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: