Iklan
UPDATE

Here Our Love Begin | part 3

#PopNoteRecovery

Here Our Love Begin Here Our Love Begin [sumber: pexels.com]

Curhat – Here Our Love Begin | part 3Ah, iya! Bagaimana kalau saya katakan saja kalimat itu sekarang?! Saat saya mencari dia, ternyata dia sudah lebih dulu sampai di bawah! Maka saya bergegas menuruni tangga, dengan jantung kembali berdegup kencang, dan saya bergumam, tunggu aku!

Halo, selamat siang. Maaf ya, baru bisa nulis notes part 3-nya sekarang, soalnya kemarin masih ada urusan di dunia nyata~ Dan, mungkin kamu sudah penasaran dengan kelanjutannya, jadi, silakan baca…

* * * * *

~Sambungan dari part 2~

Dan saat saya sudah sampai di bawah, ternyata dia sudah ke area parkir mobil lagi! Dan segeralah saya menyusul dia. Ehh,,, ternyata disuruh ngambil barang-barang bawaan aja toh. Ya sudahlah, besok saja bilangnya~ Capek! Naik turun anak tangga dari area parkir ke atas (tempat Nista Mandala Pura, area umum, tempat kami akan menginap) dengan membawa barang yang cuma berisi pakaian ganti. Dan di area menginap (sejenis saung dengan dinding bambu dan berukuran cukup luas) saya segera melepas lelah dengan : TIDUR!

Tapi, gak bisa tidur~ Karena, sekitar jam 2 dini hari, saya masih bisa mendengar sayup-sayup para orang tua yang mengobrol. Dan keluarga Pak Nyoman kedengerannya sedang makan. Dan sepertinya, itu si Made yang buat!!! Aaarrrggghhh!!! Mau nyicipin masakan dia!!! Tapi apa daya, mata sudah terlanjur merem, dan hawa dingin makin menjadi-jadi. Sambil membayangkan esok hari, saya mulai terlelap, dan, akhirnya tertidur ‘cukup’ pulas…

* * * * *

Paginya (tanggal 16 Juli 2011), sekitar jam 7-an saya sudah bersiap untuk mandi. Karena, hari itu kami akan melaksanakan persembahyangan hari raya Kuningan! Dan untunglah, saya mendapat kamar mandi umum yang kosong dengan cepat. Selesai mandi dan berpakaian sembahyang, kami segera menuju ke Mandala Utama Pura, tempat pelaksanaan persembahyangan Kuningan. Tidak seperti Pura di Jakarta & Bekasi, di sini sangat sepi! Hanya ada beberapa umat saja yang datang sembahyang.

Setelah persembahyangan selesai, kami segera turun ke area Nista Mandala lagi, untuk berganti pakaian tentunya. Setelah itu, kembali turun ke warung yang ada di bawah, untuk sarapan. Ya, dari bangun tidur sampai selesai persembahyangan, perut saya belum terisi~ Tapi, hanya saya, ayah, dan pak Wayan yang sarapan di warung. Sedangkan keluarga pak Nyoman sarapannya di saung atas, karena mereka sudah bawa bekal makanan. Dan setelah kenyang, saya duduk termenung sebentar.

Hei, ayah saya menepuk pundakku dan menanyakan, kenapa saya gak samperin si Made di atas? Saya disuruh untuk mengajak ngobrol dia, karena mungkin, kesempatan ini gak akan datang dua kali. Dan, setelah mengumpulkan keberanian yang cukup, saya langkahkan kaki saya menuju ke atas.

“Om Avighnam Astu Namo Sidham,” gumamku (doa untuk keselamatan, dan sebelum mengerjakan sesuatu). Dengan langkah kaki yang ‘setengah mantap’ dan ‘setengah ragu’ (woloh, lebay!), saya mulai memijakkan anak tangga menuju ke atas. Namun, pikiran-pikiran negatif tiba-tiba menyerang saya! Bagaimana kalau dia gak menyukaiku? Bagaimana kalau saya ditolak? Bagaimana kalau saya ini bukan tipenya dia? Serta ‘bagaimana-bagaimana’ yang negatif lainnya. Waaaarrrrggghhh!!! (belum apa-apa udah stress duluan~)

Namun, saya ucapkan doa itu sekali lagi, mulai mengatur nafas dan detak jantung serta gula darah (lho? bukaaan!), sehingga pikiran saya lebih tenang sedikit. Ya, saya harus optimis! Apapun hasilnya, saya gak boleh kecewa, karena, saya sudah berusaha! Ah, itu dia! Si Made masih berkumpul dengan ibu dan kakaknya (kakaknya perempuan ya~). Saya coba masuk ke sana, lalu berpura-pura mengambil buah salak, dan segera duduk agak menjauh dari mereka.

Sambil mengupas buah salak, saya menengok ke belakang, dan memanggil si Made untuk duduk di sebelah saya. Dia terkesan agak cuek gimanaaa gitu. Tapi akhirnya dia mau menghampiri saya (sumpah, muka saya waktu itu udah kayak tomat yang mateng total!!!). Lalu, saya mulai berbasa-basi, menanyakan kabar dia, sekolah, dan keluarganya. Sambil mengunyah salak, saya mencoba mengobrol dengannya. Dan, pas mau mengatakan ‘kalimat itu’, tiba-tiba suara saya gak kedengeran!!! Seperti berbisik, dengan sangat lirih, saya paksa suara saya mengatakan ‘kalimat itu’ :

Saya : “err, De…”
Dia : “apa?”
Saya : “err, ah, kamu udah tau ‘kan?”
Dia : “apa sih?”
Saya : “err, itu loh…”
Dia : “itu apa???”
Saya : “err…” (mau meledak!!!) “…aku menyukaimu…” (DUAAAAAAARRRR!!!!!)

Iya! Kalimat yang sangat ingin saya ucapkan ke seseorang yang spesial bagi hati saya… Kalimat yang (mungkin) ia tunggu dari mulut saya… Dan kalimat yang akan mempersatukan atau bahkan memisahkan kami… Sudah TERUCAP!!!

~Bersambung ke part 4~

Salam – Agung Rangga

Iklan

1 Trackback / Pingback

  1. Here Our Love Begin | epilog – Agung Rangga

Apa komentarmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: