Menonaktifkan Media Sosial

Menonaktifkan Media Sosial

Setelah mencoba berbagai cara untuk lepas dari jerat candu media sosial, saya akhirnya memutuskan untuk ambil langkah terakhir, yaitu menonaktifkan media sosial. Menurut saya, cara ini (mungkin) adalah yang terbaik yang bisa saya lakukan demi mengklaim semua sisa waktu yang saya miliki. Tapi mengapa sampai menonaktifkan media sosial?

Tiga Petaka

Tiga Petaka
Tiga Petaka [sumber: pexels.com]

Susah tidur, sering cemas, hingga banyak pikiran adalah tiga di antara sekian banyak alasan yang bisa saya ungkapkan ketika saya tidak bisa lagi mengendalikan diri saat bermain media sosial. Ada perasaan bersalah ketika menyadari bahwa sebagian besar waktu saya digunakan untuk membuka beberapa aplikasi media sosial secara bergantian pada ponsel pintar saya.

Pertama buka aplikasi Instagram, media sosial favorit saya. Di sana saya bisa melihat berbagai foto dari teman dan keluarga di bagian lini masa, tentunya dengan selingan gangguan iklan di setiap 2-3 foto. Tidak lupa untuk melihat story dari akun yang saya ikuti, menengok kegiatan mereka hari itu. Terakhir dan yang paling menyeramkan adalah membuka tab explore, tempat di mana waktu saya paling banyak terbuang percuma.

Kedua buka aplikasi Facebook, media sosial tempat saya “mengoleksi” teman. Iya, saya akui bahwa saya senang sekali berteman dengan orang-orang yang saya kagumi di Facebook, seperti seniman, komikus, animator, dan beberapa orang terkenal lainnya. Ingat, ini bukan sekedar mengikuti (follow) tapi menjadi teman beneran (friend)! Selain menikmati konten dari teman-teman saya, tidak lupa saya baca tulisan di beberapa grup yang saya ikuti.

Ketiga buka aplikasi Twitter, media sosial tempat saya mendapatkan asupan drama dan komedi. Yap, jika kamu ingin agar hidupmu lebih berwarna, silakan daftar akun Twitter dan ikuti beberapa akun drama dan komedi. Hampir tiap hari ada saja drama yang terjadi di media sosial ini, mulai drama artis, politik, dan masih banyak lagi. Beberapa akun komedi yang sering mencuit meme dan video lucu juga saya ikuti, dan beberapa berhasil membuat saya tertawa terpingkal-pingkal.

Ketiga media sosial itu adalah tiga petaka yang saya buka mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Setiap 5-15 menit sekali selalu saya luangkan waktu untuk beralih dari media sosial satu ke yang lainnya. Sebenarnya saya juga memiliki beberapa akun media sosial lainnya seperti LinkedIn, Pinterest, dan LINE namun saya tidak terlalu aktif di sana. Yang jelas, ketiga media sosial inilah yang menjadi alasan utama saya untuk keluar dari lingkaran setan ini.

Baca juga: Kecanduan Media Sosial

Takut Ketinggalan

Takut Ketinggalan
Takut Ketinggalan [sumber: pexels.com]

Siapa sih yang tidak takut ketinggalan? Hampir semua orang, terutama di generasi saya ke bawah (milenial hingga gen-z) merupakan golongan yang menjunjung tinggi keterkinian. Kami harus tahu apa saja yang sedang terjadi di sekitar kami pada saat ini. Kami sangat suka sesuatu yang baru, dan segera meninggalkan hal lama yang sudah tidak relevan seiring bergantinya hari. Apapun yang kami alami/dapatkan harus segera dibagikan ke publik, agar kami diakui sebagai yang terdepan.

Takut ketinggalan (fear of missing out/FOMO) adalah salah satu penyakit yang saya derita akibat kecanduan media sosial. Gara-gara ini, saya jadi sering merasa cemas, dan selalu bertanya pada diri sendiri “apakah saya ketinggalan?”. Contohnya ketika semua orang mulai membicarakan topik yang sedang tren, seketika saya merasa harus segera mencari tahu segala hal tentang topik tersebut. Hal itu terjadi berulang kali dengan topik-topik yang berbeda.

Bukan hanya itu, takut ketinggalan ini juga membuat saya lebih rajin membuka media sosial. Saya ingin tahu segala hal yang dilakukan oleh orang-orang terdekat saya. Saya ingin tahu segala hal yang terjadi di sekitar saya. Sampai saya ingin tahu segala hal yang bahkan tidak berhubungan langsung atau membawa manfaat bagi kehidupan saya. Pokoknya saya ingin tahu semuanya, titik! Ya, rasa haus akan keingintahuan ini kadang membuat saya pusing sendiri.

Pameran untuk Sang Iri

Pameran untuk Sang Iri
Pameran untuk Sang Iri [sumber: pexels.com]

Sebenarnya apa sih tujuan membuat akun media sosial? Saat pertama kali berkenalan dengan media sosial, tentu tujuan saya adalah untuk menjaga silaturahmi dengan kerabat, teman, dan keluarga. Rasanya senang sekali bisa berinteraksi dengan mereka yang berlokasi jauh dari saya, atau mereka yang lama tidak saya temui. Seru saja ketika melihat kawan lama sudah sukses atau keluarga jauh yang bahagia dengan kehidupannya.

Namun, semakin ke sini saya tersadar akan sesuatu. Saya merasa tujuan dari memiliki akun media sosial sudah berubah, yaitu sebagai tempat “pameran untuk sang iri”. Pada dasarnya, saya mengelompokkan pengguna media sosial menjadi dua, yaitu “si pamer” dan “si iri”. Si pamer ini adalah orang yang tanpa sadar sedang memamerkan kehidupannya, kegiatannya, sesuatu yang dimiliki, atau hal lainnya pada publik. Sementara si iri adalah orang yang tanpa sadar selalu merasa iri pada orang-orang seperti si pamer.

Kenapa saya tulis “tanpa sadar”? Yaa, karena saya selalu merasa tidak seperti itu. Saya merasa bahwa saya tidak pamer tuh ketika saya mengunggah foto saya lagi liburan, atau ketika menunggah foto sesuatu yang baru saja saya beli. Saya juga tidak merasa iri tuh ketika saya melihat teman saya mengunggah foto saat ia sedang bersenang-senang dengan teman-temannya, atau ketika kerabat saya mengunggah foto saat ia membeli sesuatu yang sudah saya inginkan sejak lama. Terdengar menyedihkan ya? Itulah yang namanya penyangkalan (denial).

Ada kalanya saya menjadi si pamer, namun ada kalanya saya menjadi si iri. Hal itu akan menjadi semakin rumit apabila saya memerankan si pamer dan si iri secara bersamaan. Misalnya ketika saya selesai pamer sesuatu di media sosial, saya langsung merasa iri pada orang lain ketika tahu bahwa apa yang saya pamerkan tidak seberapa dibanding yang orang lain pamerkan! Ahahaha, betapa bodohnya saya saat itu.

Baca juga: Drama Media Sosial, Benci Tapi Suka

Semi-Kalkun Dingin

Semi-Kalkun Dingin
Semi-Kalkun Dingin [sumber: pexels.com]

Tadi sudah saya ceritakan beberapa alasan mengapa saya sangat benci (tapi suka) dengan media sosial. Mulai dari tiga petaka yang selalu menggoda saya, rasa takut akan ketinggalan sesuatu, hingga bagaimana media sosial menjadi ruang pameran untuk sang iri. Beberapa kali saya mencoba untuk lepas dari hal-hal itu dengan berbagai cara, mulai dari yang sederhana sampai yang ekstrem.

Awal ketika saya ingin lepas dari media sosial adalah dengan membatasi penggunaannya. Inginnya sih cukup gunakan media sosial tidak lebih dari 1 jam selama sehari. Saya mulai atur pembatasan waktu layar (screen time) pada ponsel pintar saya, sekedar untuk mengingatkan kalau-kalau nanti kebablasan waktu main media sosial. Namun cara pertama ini gagal, saya selalu mengakalinya agar bisa membuka media sosial lebih lama.

Cara berikutnya adalah dengan menghapus aplikasi media sosial yang terpasang di ponsel pintar saya. Rencananya saya hanya akan memasangnya kembali saat akhir pekan saja, jadi pada saat hari kerja, saya bisa fokus dengan apa yang saya kerjakan tanpa terganggu dengan media sosial. Sekali lagi, cara ini gagal juga. Belum sampai sehari saya hapus aplikasinya, saya langsung mengunduhnya lagi.

Oke, kali ini tidak mau pakai aplikasi! Saya putuskan untuk tidak akan memasang aplikasi media sosial lagi di ponsel pintar saya. Sebagai gantinya, ketika ingin membuka media sosial, saya hanya bisa melakukannya di peramban (browser) di laptop. Dengan begini tentu mengakses media sosial jadi semakin sulit, bukan? Tidak juga, saya dengan mudahnya mengakses media sosial lewat peramban di ponsel pintar saya tanpa perlu repot menggunakan laptop.

Baiklah, saya menyerah! Satu-satunya jalan untuk keluar dari jeratan candu media sosial ini adalah menggunakan metode kalkun dingin (cold turkey). Metode ini biasanya digunakan pada orang yang memiliki kecanduan akut seperti pecandu rokok atau pecandu psikotropika. Dengan metode ini, semua sumber candu akan “dipaksa” untuk dihentikan/dijauhkan/diputuskan selamanya.

Bagaimana untuk “pecandu” media sosial seperti saya? Yaa, kalau menerapkan metode kalkun dingin ini sih, artinya saya harus menghapus akun secara permanen. Namun, dalam hati kecil saya, saya masih merasa takut apabila saya kehilangan akun media sosial yang telah saya pakai selama bertahun-tahun. Maka dari itu, saya menerapkan cara semi-kalkun dingin, yaitu hanya dengan menonaktifkannya (deactivate).

Pada tanggal 19 Januari 2021 kemarin, saya resmi menonaktifkan semua akun media sosial yang saya miliki, mulai dari Facebook, Instagram, Twitter, dan LinkedIn. Yang saya ketahui, akun Facebook, Instagram dan LinkedIn yang dinonaktifkan masih bisa diaktifkan kembali dengan cara masuk ke akunnya lagi. Sementara akun Twitter yang dinonaktifkan lebih dari 30 hari akan dihapus secara permanen. Walau sudah tahu konsekuensinya, saya tetap melakukannya tanpa pikir panjang lagi.

Ya, kini saya resmi tidak memakai akun media sosial apapun. Jadi, untuk kamu yang membaca tulisan ini, jika ingin menghubungi saya secara personal, silakan kirim pesan di halaman Kontak. Sekarang saya sudah merasa sedikit lebih tenang, sedikit lebih lega. Kita lihat saja, seberapa lama saya bisa mengklaim waktu yang seharusnya bermanfaat untuk kehidupan saya, saat saya tidak berada di media sosial.

Salam,
Agung Rangga

Diterbitkan oleh

Agung Rangga

Hai, salam kenal! Saya adalah seorang dosen yang hobi menulis, baca komik, dan jalan-jalan.

3 tanggapan untuk “Menonaktifkan Media Sosial”

  1. Saya sudah menonaktifkan facebook. IG saya gak punya, twitter gak punya. Medsos saya sekarang hanya tinggal blog.
    HP aja kalau hari minggu saya non aktifkan sampai pukul dua atau pukul tiga.

    Sehat selalu, Gung.

  2. Kayaknya agak susah sih buat saya untuk menonaktifkan media sosial
    untungnya saya udah bisa membatasi diri untuk gk buka social media terutama instagram apabila sedang gk ngapa2in.

    maximal menggunakan socmed 1-2 jam, bahkan sudah seperlunya saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s