Drama Media Sosial, Benci Tapi Suka

Drama Media Sosial, Benci Tapi Suka
Drama Media Sosial, Benci Tapi Suka

Di jaman kemajuan internet seperti sekarang ini, banyak sekali orang-orang yang memanfaatkan media sosial sebagai wadah untuk mencurahkan isi hati (curhat). Berbagai opini, kritik, saran, keluh kesah, dan unek-unek seenaknya saja diumbar di sana.

Mereka tidak pernah (atau jarang) berpikir kalau apa yang mereka bagi di media sosial, bisa mendatangkan hal-hal yang tidak akan pernah diduga sebelumnya. Boro-boro memikirkan akibatnya, yang ada malah mereka merasa bangga bisa menulis panjang dan mendapat likes/retweets dari orang lain.

Facebook, Twitter dan Path adalah tiga sarana yang sering digunakan untuk curhat. Kalau curhat di Path sih masih mending, karena hanya dibagi ke lingkaran pertemanan yang sempit. Kalau di Facebook mungkin punya lingkaran pertemanan yang lebih luas. Namun jika di Twitter, itu sudah jadi konsumsi publik.

Yang jadi permasalahan adalah ketika apa yang kita bagikan sudah menjadi konsumsi publik. Orang-orang yang bahkan tidak kita kenal bisa mengomentari hal yang telah kita bagikan tersebut. Tanggapannya pun beragam, mulai dari positif, netral, hingga negatif. Kalau sudah begitu, pasti deh muncul yang namanya “drama”.

Baca juga: Ini Alasan Mengapa Saya Menyukai Tidur Siang


Apa Sih Drama?

Apa Sih Drama?
Apa Sih Drama? [sumber: shutterstock]
Secara harfiah, drama berarti komposisi syair atau prosa yang diharapkan dapat menggambarkan kehidupan dan watak melalui tingkah laku (akting) atau dialog yang dipentaskan (KBBI). Bisa juga cerita atau kisah, terutama yang melibatkan konflik atau emosi, yang khusus disusun untuk pertunjukan teater.

Namun, drama yang akan saya bahas di tulisan ini bukanlah drama yang dipentaskan di teater. Seperti yang sudah dibahas di awal, saya akan fokus pada drama yang terjadi di media sosial. Huahaha, ini akan jadi hal yang seru!

Menurut saya, drama adalah sesuatu yang dibesar-besarkan dan ditanggapi oleh banyak orang. Kadang sesuatu itu sebenarnya cuma hal yang sepele. Bagai api disiram minyak, hal sepele itu jadi sesuatu yang besar, viral, dan mengundang orang-orang untuk ikut menanggapinya.

Contohnya, saya curhat kalau saya benci makan bubur ayam. Lalu ada beberapa orang yang menanggapi: “tapi kan bubur ayam enak!”, “saya juga tidak suka bubur ayam”, “kamu gak kasihan sama penjual bubur ayam?”, “bubur ayam kan makanan bergizi!”, “wah, tidak menghargai makanan Indonesia nih!”, dan seterusnya.

Akhirnya, curhatan tersebut pun makin banyak mendapatkan tanggapan. Mulai dari teman dan keluarga saya, hingga orang yang sama sekali tidak saya kenal. Kemudian curhatan itu dibagi-ulang (reshare) oleh mereka ke publik, hingga akhirnya viral dan mengundang debat tak berujung.

Oh Tuhan Yang Maha Esa…


Kenapa Benci Dengan Drama?

Kenapa Benci Dengan Drama?
Kenapa Benci Dengan Drama? [sumber: shutterstock]
Ya bayangin aja, cuma karena curhatan begitu doang, nama saya jadi dikenal luas oleh orang banyak! Kalau isi curhatannya baik dan tanggapannya positif sih tidak apa-apa, lah kalau sebaliknya? Nama baik saya jadi pertaruhannya, dooong!

Bukan hanya saya saja, bahkan orang-orang di sekitar saya pun bakal jadi terancam ikut terlibat dalam drama ini. Bisa kamu lihat dari kebanyakan kasus-kasus (yang berawal dari drama) yang beredar di media sosial. Kasihan kan kalau keluarga atau kerabat yang tidak tahu apa-apa jadi ikut terseret.

Belum lagi kalau drama itu sampai dikaitkan ke masalah-masalah sensitif seperti menyinggung SARA. Wah, bisa-bisa saya diwawancarai/diliput media, hingga berakhir mendekam di jeruji besi (amit-amiiit!!!). Saya sama sekali tidak bisa membayangkan seperti apa rasanya kayak gitu.

Tidak cukup sampai di situ, setelah drama yang kamu buat berakhir, mungkin ada sisa-sisa yang masih membekas. Bisa jadi, ketika saya lewat di tengah keramaian, orang-orang akan berbisik di belakang saya, “eh, itu kan yang katanya gak suka bubur ayam”, “iya, dasar orang yang aneh, bubur ayam kan enak”. Ugh, sakit banget rasanya!

Gara-gara hal ini, saya menjadi lebih ekstra hati-hati dalam membagikan opini saya di media sosial. Bahkan, saya sangat jaraaang sekali update status di Facebook atau ngetwit di Twitter. Saya lebih baik nulis panjang kayak gini di blog sendiri dari pada di sana, soalnya kemungkinan menjadi viralnya lebih sedikit.

Baca juga: Suka Duka Kehidupan Mahasiswa DKV


Katanya Benci, Tapi Kok Suka?

Katanya Benci, Tapi Kok Suka?
Katanya Benci, Tapi Kok Suka? [sumber: shutterstock]
Nah, ini dia yang aneh. Saya sering berteriak, “AKU BENCI DRAMA!”. Tapi begitu ada drama yang melintas di lini masa (timeline) saya, “asiiik, ada drama baru, siapin cemilan ah~”. Yap, ketika ada drama, bisa dipastikan saya akan duduk di kursi paling depan, makan berondong jagung, dan menyimaknya dengan penuh khidmat.

Hah? Kok gitu? Yap, karena saya tidak pernah membuat drama, apalagi terlibat di drama orang lain, maka saya merasa tenang-tenang saja. Nah, pas ada orang lain yang membuat atau membagikan drama, wuiiih, saya langsung stand-by di depan laptop/ponsel deh!

Pernah pas ada drama heboh di lingkaran pertemanan saya di Facebook atau Twitter, saya bisa seharian (bahkan lebih) nongkrong di media sosial! Pokoknya saya tidak ingin sampai melewatkan satu komentar/tweet pun dari drama yang sedang terjadi. Ya, kurang lebih mirip ibu-ibu kecanduan sinetron atau bapak-bapak kecanduan nonton sepak bola lah~

Mungkin kamu bertanya, kok sampai segitunya sih? Err, sebenarnya saya juga tidak tahu alasannya. Rasanya bagaimana ya, hmm, seperti ada perasaan senang, penasaran, dan antusias gitu. Tapi, entahlah, mungkin kamu bisa menanyakannya kepada pakar psikologi soal hal ini.

Memang sih, ada rasa bersalah juga pas menyimak sebuah drama. Kadang sedih juga kalau membayangkan diri saya ada di posisi orang yang membuat drama tersebut. Apalagi kalau drama itu berujung ke hal-hal yang tidak baik. Malah jadi merasa berdosa kan…

Ta-tapi, ya mau gimana lagi! Bukankah drama ada untuk dinikmati? Salah sendiri kenapa bikin drama! Kenapa tidak berpikir dahulu sebelum berkata atau berbuat? Padahal kalau saja ia bisa menahan diri untuk tidak sembarangan update status/ngetwit, drama itu tidak akan terjadi.

Baca juga: 8 Profesi Untuk Lulusan DKV


Ya, kurang lebih begitulah pendapat saya tentang drama yang sering terjadi di media sosial. Intinya, saya benci kalau drama itu terjadi pada diri saya, tapi saya juga suka menyimak drama orang lain. Ahahaha~ Apakah kamu juga seperti saya? Atau punya pendapat yang berbeda? Silakan tulis di kolom komentar ya~

Terima kasih sudah membaca, semoga harimu menyenangkan~

People who create their own drama, deserve their own karma.
– Anonymous

Salam,
Agung Rangga