Gundah – Remedial Akuntansi

Kuliah – Selama menjalani kuliah, tentu ada banyak sekali hal-hal yang terjadi di kehidupan saya. Hmm, baik itu hal yang positif, maupun hal yang negatif. Semuanya berlangsung begitu cepat. Dan yang terpenting, hal-hal tersebut membuat saya menjadi lebih dewasa.

Huhu, opening yang lebay ya~ Jadi, beberapa minggu yang lalu kan saya sudah menjalani UTS (Ujian Tengah Semester), nah kebetulan akhir-akhir ini mulai bermunculan tuh nilai-nilainya. Saya dan teman-teman pun penasaran akan hasilnya. Dari semua matakuliah yang saya tempuh di semester ini, paling penasaran tuh sama nilai matakuliah akuntansi. WAIT! Bukannya saya kuliah di DKV (Desain Komunikasi Visual) ya? Kok belajar akuntansi? Apa hubungannya dunia desain dan akuntansi???

Jadi, jurusan DKV saya itu ‘agak’ berbeda dengan jurusan DKV pada kampus umum lainnya, yaitu “DKV berbasis manajemen”. Nah, mau gak mau ya kami sebagai mahasiswa tentu harus mempelajari dasar-dasar ilmu manajemen dong! Yang salah satunya ialah “AKUNTANSI”! Oh iya, di semester kemarin (semester III) saya sudah mempelajari matakuliah awal pengantar menuju dunia ‘hitung-hitungan’, matakuliah Statistika. Dan saya pun berjuang keras untuk lulus di matakuliah itu. Karena, saya punya pengalaman buruk mengenai pelajaran hitung-hitungan (terutama pas masa SMA).

Jujur, dulu pas SMA saya ‘cukup sering’ mengikuti remedial di hampir setiap ujian pelajaran hitung-hitungan. Sebut saja Matematika, Fisika dan Kimia (kebetulan saya masuk jurusan IPA). Dan sumpah, pas itu saya muak sekali dengan yang namanya angka-angka dan rumus! Walaupun, sebenarnya dulu saya pernah sangat ‘mencintai’ pelajaran-pelajaran itu, tepatnya pas masih SD. Hehe, dari kelas 1 sampai 3 SD, saya selalu ditunjuk oleh sekolah untuk mengikuti lomba “Calistung (Baca, Tulis, Hitung)” antar SD.

Kemudian pas kelas IV SD, saya juga ditunjuk untuk mengikuti lomba olimpiade mata pelajaran antar SD. Dan kamu tau, saya mewakili sekolah dalam pelajaran matematika! Iya, bahkan sampai mendapat juara 2 di tingkat kecamatan!!! Well, sekarang saya ga habis pikir, gimana bisa seorang saya dulu bisa begitu mencintai pelajaran berhitung (eh, lebih enak gini dari pada nyebut ‘hitung-hitungan’), kemudian berubah 180 derajat jadi membencinya… *mojok*

Nah, sekarang, pas memasuki masa kuliah, saya mulai berusaha mencintai kembali pelajaran berhitung ini. Dimulai dari matakuliah statistika, saya berhasil menaklukannya. Ya, saya lulus matakuliah tersebut dengan nilai yang baik. Dan untuk sekarang, di semester IV ini saya menghadapi ‘seri lanjutan’ dari matakuliah statistika tadi, yaitu akuntansi. Pas hari selasa kemarin (15/4), sang dosen akuntansi (Bu Pipit namanya) memberitahu kami sekelas mengenai nilai UTS.

Kami dipanggil satu-persatu untuk melihat nilai kami di laptop Bu Pipit. Dan saya agak sedikit ‘terkejut’ melihat nilai saya. 57.

Kemudian beliau bilang pada kami, yang nilainya dibawah 60 akan mengikuti remedial hari itu juga. Sedangkan yang diatas 60, boleh pulang. Remedialnya ‘open-book’, jadi kami boleh melihat catatan sembari mengerjakan soal. Pas waktu soal di bagikan, ada seorang mahasiswa cowok di kelas saya nyeloteh dengan nyaringnya “remedial Gung?”. Saya pun hanya tersenyum. Ya mungkin dia kaget aja melihat tumben-tumbennya saya ikut remedial. Sekaget saya mungkin…

Ah, sudahlah. Saya kerjakan soal remedial tersebut dengan serius. Eh, ternyata soalnya sama dengan soal pas UTS. Waduh, apakah nanti nilai remedial saya juga akan sama dengan nilai pas UTS?! Kata Bu Pipit sih yang ikut remedial nanti nilai maksimalnya hanya 60. Semoga saja nilai saya sampai di angka 60 itu… (miris) Saya selesai paling pertama diantara teman-teman saya. Pas saya serahkan lembar jawabannya ke Bu Pipit, saya juga berkata kalau saya ingin tau letak kesalahan saya di mana. Ya, saya sangat penasaran, kenapa saya bisa mendapat nilai segitu? Apakah saya yang kurang paham, atau hanya kurang teliti mengerjakannya??? Kata beliau, nanti akan beliau koreksi dulu, dan hasilnya dibagikan minggu depan. Saya hanya bisa berkata “Baiklah…”. Dan saya pun keluar dari ruangan.

…Hmph. Perasaan gundah masih menyelimuti saya sampai sekarang. Rasa penasaran, kesal, marah, sedih, pokoknya campur aduk! Tapi, saya pun berkaca. Kata orang, ada saatnya kita berada jauh di atas awan, dan ada saatnya kita harus jatuh ke tanah. Saya pun memaknai kejadian ini sebagai pembelajaran. Semoga saya bisa lebih baik lagi nantinya.

“Ketika garuda terlalu lelah untuk terbang, kini saatnya ia mengistirahatkan sayapnya sejenak”

Salam – Agung Rangga