UPDATE

Upacara Ngeroras (Bagian 4)

Upacara Ngeroras (Bagian 4) Upacara Ngeroras (Bagian 4)

PerjalananUpacara Ngeroras merupakan sebuah upacara untuk menghormati leluhur yang sudah meninggal, dan biasa dilakukan oleh masyarakat Hindu di Bali setelah melaksanakan upacara ngaben. Dan hari itu, akan dilaksanakan upacara potong gigi, yang merupakan salah satu rangkaian dari upacara ngeroras yang dilaksanakan di Piyadnyan.

– lanjutan dari Upacara Ngeroras (Bagian 3)


Persiapan Upacara

Malam itu (23 September 2015) sekitar pukul 00:00 WITA, rasa kantuk yang berat mulai melanda saya (biasa tidur jam 9 malam, sekarang dipaksa begadang). Waktu itu saya sedang duduk di saung-saung tempat ditaruhnya gamelan bali, yang belum dirapikan sama pemainnya. Karena sudah tidak kuat menahan kantuk, saya rebahkan badan di sela-sela gamelan tersebut. Yaa, biarpun sempit, setidaknya saya bisa tidur sebentar.

Sekitar satu jam kemudian, saya dibangunkan oleh Mama, katanya upacara potong giginya sudah mau dimulai. Para peserta potong gigi (kebanyakan sih remaja, tapi ada juga beberapa orang dewasa) mulai bersiap-siap. Mereka disuruh mengganti pakaian jadi cuma mengenakan kain kuning kotak-kotak, baik laki-laki atau perempuan. Sementara itu, para pemangku dan pendeta mulai mempersiapkan sajen serta merapalkan mantra.

Para peserta upacara potong gigi sedang berkumpul

Para peserta upacara potong gigi sedang berkumpul

Tidak lama, para peserta upacara potong gigi berkumpul di Madya Mandala (area tengah) dari tempat upacara ngeroras ini. Mereka berbaris rapi, dan pemangku pun memandu mereka untuk melakukan natab (semacam gerakan melambaikan tangan ke arah dada buat memohon anugrah, cmiiw) untuk menyucikan para peserta. Lalu mereka mencuci tangan dengan air suci, lalu diberi bunga dan dupa untuk sembahyang, dan para peserta dipersilakan untuk duduk.


Suasana Haru Di Piyadnyan

Kemudian, pemangku mempersilakan pada para peserta untuk melakukan sembahyang panca sembah (menggunakan sarana bunga), guna memohon doa agar upacara berjalan lancar. Setelah itu, salah seorang pemangku memberi wejangan pada para peserta, mengingatkan kembali makna dari upacara potong gigi ini, yang dilanjutkan dengan memercikkan tirta pada mereka.

Lalu, pemangku memerintahkan pada para orang tua dari peserta upacara potong gigi berbaris di depan, berhadapan dengan para putra-putrinya. Para peserta melakukan muspa (sembahayang dengan tangan tercakup di atas kepala) menggunakan kwangen (kumpulan bunga yang dimasukan ke dalam kerucut daun pisang). Mereka meminta doa restu pada orang tua masing-masing. Terlihat beberapa yang mulai menitikkan air mata sambil sesekali terdengar isak tangis, baik dari peserta maupun para orang tua. Suasana terasa begitu haru di Piyadnyan malam itu.

Dewi dan Arya memohon doa restu pada Mama dan Bapak

Dewi dan Arya memohon doa restu pada Mama dan Bapak

Setelah itu, gigi peserta upacara potong gigi dioleskan madu oleh pemangku sambil mengucapkan mantera. Dan satu-persatu peserta mulai berjalan menuju orang tuanya, untuk bersimpuh di hadapan kaki kedua orang tua sambil meminta doa restu. Oh iya, dari keluarga saya, cuma si Dewi (adik pertama) dan Arya (adik bungsu) yang melaksanakan potong gigi, karena saya sudah melakukannya duluan pas tahun 2006 lalu (bareng keluarga Bapak).


Upacara Potong Gigi

Akhirnya, sekitar pukul 04:00 WITA upacara potong gigi dimulai. Upacaranya dilaksanakan di bale-bale di Madya Mandala. Terdapat 4 orang pemangku yang akan memandu proses upacara ini. Pertama, peserta merebahkan badan di atas kasur di bale-bale, kemudian badannya ditutupi selimut, sambil tangannya memegang kewangen yang tadi dipakai pas sembahyang. Mulut peserta disumpal sedikit pakai potongan tebu biar nanti tidak menutup saat giginya dikikir oleh pemangku. Yap, cuma dikikir sedikit kok, gak beneran dipotong. Dan rasanya yaa, ngilu-ngilu gitu deh~

Selama giginya dikikir oleh pemangku, peserta didampingi oleh orang tuanya. Sesekali, peserta mengeluarkan air liur yang ditampung ke dalam batok kelapa kuning. Jadi, gigi yang dikikir itu tujuannya untuk melepaskan diri dari belenggu Sad Ripu atau enam musuh yang ada dalam diri manusia (nafsu, rakus, marah, mabuk, bingung dan dengki). Gigi yang dikikir hanya gigi bagian atas, dan cuma gigi taring serta gigi seri saja.

Setelah dirasa gigi yang tadi dikikir cukup rata (tidak tajam lagi), pemangku pun mengoleskan kunyit pada gigi peserta. Lalu peserta disuruh memutuskan daun sirih untuk mengetes gigi yang tadi dikikir, kemudian natab banten lagi, lalu memukul-mukulkan kumpulan uang bolong ke bale-bale sebagai tanda selesainya ia melaksanakan upacara ini. Yang pertama potong gigi adalah si Dewi, kemudian dilanjut si Arya. Mama bertugas mendampingi mereka, sementara Bapak sedang istirahat di Madya Mandala.


Pulang ke Kubu

Pukul 05:00 WITA, matahari pun terbit, menandakan bahwa berakhirnya upacara potong gigi. Upacaranya sukses! Kemudian, para peserta yang telah melaksanakan upacara potong gigi harus menyucikan diri di petung, yaitu sungai kecil sumber mata air di kampung kami. Mereka semua berjalan kaki bersama dari Piyadnyan menuju petung (jaraknya lumayan jauh loh). Sementara itu, saya, Mama dan Bapak pulang ke kubu untuk beristirahat. Capeeek bangeeet!

Pas di jalan menuju kubu, saya dan Mama berhenti dulu untuk membeli kupat (ketupat dicampur kangkung dengan sambal kacang, mirip gado-gado) dan buah pepaya. Begitu sampai kubu, saya mandi dulu biar segar, baru sarapan kupat tadi. Tidak lama, Biang Mangku meminta saya untuk mengantarkan beliau ke rumah penjahit. Dengan naik motor, saya mengantar beliau ke rumah yang berada di bukit belakang sekolah (err, mirip dengan yang ada di Doraemon ya…).

Pas balik lagi ke kubu, saya merasa kantuk saya kembali kumat, lantaran cuma sempat tidur satu jam saja semalam. Saya melihat jam, waktu itu pukul 07:45. Saya pun kembali ke kamar, dan memutuskan untuk tidur sebentar. Hingga sekitar pukul 10:00, saya kembali dibangunkan oleh Mama, disuruh bersiap untuk ke Piyadnyan lagi. Yap, hari ini adalah puncak upacara ngeroras! Duh, jadi penasaran, pasti bakal seru!


– bersambung ke: Upacara Ngeroras (Bagian Akhir) –

Salam,
Agung Rangga

Iklan

20 Comments on Upacara Ngeroras (Bagian 4)

  1. Saya malah fokus Ke Kupatnya. Wah saya belajar pengetahuan baru, terimakasih! 🌻

  2. baru tau tradisi motong gigi di Bali..
    penasaran juga pengen motret tradisi tersebut..:D

  3. Wow penasaran sama lanjutannya.
    Etapi aku baru tau soal upacara potong gigi ini

  4. wah terima kasih telah berbagii 🙂 Oiya tiap orang yang beragama hindu harus potong gigi kah minimal sekali seumur hidup atau bagaimana? *interested

  5. Di awal ane udah merinding.. Gils kirain beneran dipotong itu gigi, kebayang sakitnya gimana-_- ternyaya cuman dikikir. Kalo dipikir2 untung, bisa sekalian bersihin gigi wkwk.
    Btw, keren2 nih ilustrasinya. Ternyata anak dkv toh, minder ane 😅
    Salam kenal juga gan

  6. Baru tahu ada upacara potong gigi dan maknanya. Makasih sharingnya mas.
    Salam kenal.

  7. Dulu saya kirain upacara potong gigi itu dilakukan siang hari. Ternyata dilaksanakan sudah dinihari. Nice share.

  8. pheeww.. selesai juga bacanya dari 1-4 :D. baru tau ttg upacara ngeroras ini..sebelum2nya kan cuma tau ngaben aja… menarik memang tradisi ato upacara keagamaan di Bali.. sayangnya aku blm prnh melihat lgs 1 pun..

2 Trackbacks / Pingbacks

  1. Upacara Ngeroras (Bagian 3) – Agung Rangga
  2. Upacara Ngeroras (Bagian Akhir) | Agung Rangga

Apa komentarmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: