Trending

Pulang Ke Bali: Sampai Jumpa Lagi

Pulang Ke Bali: Sampai Jumpa Lagi Pulang Ke Bali: Sampai Jumpa Lagi

Perjalanan – Sampai di kubu, kami disuguhkan aneka kue basah dan teh hangat untuk melepas lelah seharian ini. Ya, aku sama sekali gak merasa bahwa hari ini berlalu begitu cepat. Masih terbayang betapa serunya basah-basahan di bawah hujan tadi. Tapi sekarang, saatnya mengistirahatkan badan dengan bercengkerama bersama keluarga besar. Satu hal yang belum sempat kami lakukan karena sibuk dengan persiapan ngaben.

– lanjutan dari: Pulang Ke Bali: Upacara Ngaben –


Bersih-Bersih

Setelah melewati beberapa hari yang melelahkan (sekaligus menyenangkan), kini saatnya kami semua beristirahat. Eh, nggak juga sih. Esok paginya (27/12), kami semua melakukan bersih-bersih di kubu. Karena sudah tidak ada tamu yang akan datang, kesempatan ini kami gunakan untuk membersihkan pekarangan kubu dari sisa-sisa acara kemarin.

yang bersih yaaa~

yang bersih yaaa~

Semua orang ikut turun tangan dalam kegiatan ini, termasuk saya dan beberapa sepupu. Gak disangka, ternyata banyak sekali sampah sisa acara yang berserakan di mana-mana! Tapi tenang saja, tidak sampai 2 jam, pekarangan kubu pun jadi bersih kembali.

Hari-hari selanjutnya kami melakukan istirahat total. Jadi, kegiatan yang dilakukan hanya ngobrol, sambil sesekali berkunjung ke rumah saudara-saudara yang terletak di desa.


Minta Tirta

2 hari kemudian (29/12), pagi-pagi setelah sarapan, kami sekeluarga siap-siap untuk acara terakhir dari upacara ngaben. Pertama, kami pergi ke Griya (sebutan untuk rumah pendeta Hindu), untuk meminta tirta (air suci). Kami berangkat dengan beberapa mobil, karena letaknya agak jauh dari desa kami.

minta tirta di griya

minta tirta di griya

Griyanya asri sekali, dan terasa banget aristektur Bali di sini. Kami semua berkumpul di tengah Griya, di depan sebuah bale-bale tempat sang pendeta duduk. Pendeta pun mulai membacakan mantra sambil mendentingkan Bajra (atau genta, sebuah bel/lonceng berbunyi nyaring). Lalu, kami pun dipercikkan tirta untuk membersihkan diri kami.

sajen dengan batang pohon dapdap

sajen dengan batang pohon dapdap

Setelah itu, kami balik lagi ke kubu untuk acara perpisahan dengan roh kakek. Ada sesajen yang diletakkan di tengah pekarangan, juga 2 batang pohon dapdap yang diikat tali. Lalu, saya bersama Mbok Gunggek kembali ditugaskan untuk membawa sajen yang kami bawa pas upacara ngaben lalu. Kami berbaris, dan berjalan diantara 2 batang pohon dapdap tersebut, agar tali yang diikat menjadi putus.

sajennya ditaruh di area setra

sajennya ditaruh di area setra

Kami pun berjalan kaki lagi ke area setra, sama seperti pas ngaben. Bedanya, kali ini matahari pagi yang menuntun kami ke sana. Sampai di sana, sesajen yang kami bawa ditaruh di atas tanah, lalu kami sembahyang muspa di depan sesajen itu. Kemudian, kami pun berjalan pulang ke kubu.


Mecaru Setelah Ngaben

ibu-ibu berjalan mengelilingi kubu membawa sajen

ibu-ibu berjalan mengelilingi kubu membawa sajen

Siangnya, kami melaksanakan upacara mecaru sebagai penutup dari rangkaian prosesi ngaben. Beberapa ibu-ibu membawa tampah berisi sajen, dan berjalan mengelilingi kubu sambil mengayab-ayab dan berdoa. Kemudian, seorang pendeta dari desa datang untuk memimpin upacara mecaru ini.

pendeta bersama sajen untuk mecaru

pendeta bersama sajen untuk mecaru

Kami sembahyang muspa, lalu pendeta memercikan tirta ke kami. Aji Made membakar beberapa batang bambu, yang tiba-tiba mengeluarkan suara ledakan yang cukup kencang. Ahahaha, anak-anak pada kaget mendengarnya (saya juga kaget sih~).

upacara mecaru selesai

upacara mecaru selesai

Lalu dilanjutkan dengan berjalan mengelilingi sajen yang sudah dipersembahkan. Aji Putu mengambil kentongan bambu sambil membunyikannya dengan kencang. Suasana menjadi sangat meriah. Kata mama, dengan begini selesai sudah ikatan antara roh kakek dengan kubu, sehingga beliau sudah bisa tenang di alam sana.


Sembahyang Keliling Desa

sebakul canang untuk sembahyang keliling

sebakul canang untuk sembahyang keliling

Tak terasa, waktu liburan kami di Bali sudah hampir habis. Sebelum pamit (31/12), kami sekeluarga biasa melakukan sembahyang keliling ke semua pura yang ada di desa. Hal ini tujuannya agar para leluhur di desa kami dapat bersedia melindungi kami sepanjang perjalanan menuju ke Bekasi.

sembahyang di Pura Puseh

sembahyang di Pura Puseh

Hanya aku, mama, bapak dan Dewi yang sembahyang (si Arya masih tidur). Kami membawa beberapa sajen yang disimpan di dalam bakul. Yang aku ingat, kami sembahyang mulai dari Pura Puseh, Pura Merajan, Pura Gedong, hingga yang terakhir adalah Pura Puncak.

pemandangan dari atas Pura Puncak

pemandangan dari atas Pura Puncak

Selesai sembahyang, mama dan bapak mulai berkemas, sementara aku dan Dewi pergi ke minimarket yang terletak di luar desa. Jauh banget loh jaraknya, dan aku dibonceng sama Dewi, lantaran agak ngeri dengan jalanannya yang berliku dan naik-turun. Di sana kami beli bekal makanan ringan untuk perjalanan pulang besok hari.

ciye yang mau ditinggalin di kampung

ciye yang mau ditinggalin di kampung~


Meninggalkan Bali

Selamat tahun baru 2015! Paginya (1/1), kami pamit dengan keluarga yang ada di kubu, termasuk…Dewi! Iya, adikku yang satu ini akan tetap tinggal di Bali, sambil menunggu ujian snmptn di tahun ini. Biarpun sedih karena harus berpisah sama partner-in-crime-ku ini, tapi aku tetap harus mendukung dia dong untuk mencapai cita-citanya.

para pedagang di Pura Rambut Siwi

para pedagang di Pura Rambut Siwi

Dengan mobil Katana milik bapak, aku, mama, arya dan segunung barang bawaan yang dipaksa masuk ke mobil, pergi meninggalkan kubu. Berangkat pukul 07:45, dan sampai di Pura Rambut Siwi (Gilimanuk) jam 11:29. Kami selalu sembahyang ke sini untuk memohon keselamatan sepanjang perjalanan, sebelum menyeberang ke pulau Jawa.

Selesai sembahyang, kami makan siang di warung makan samping pura. Sampai di pelabuhan Gilimanuk sekitar pukul 12:47 (WITA), dan saat itu pelabuhannya ramai sekali! Perjalananan dengan kapal ferry menyusuri selat Bali mencapai 3 jam, hingga tiba di pelabuhan Ketapang Banyuwangi pada pukul 14:14 (WIB).


Menerjang Badai Rintangan

Perjalanan dari Banyuwangi parah banget! Waktu itu, hujan turun dengan sangat lebat. Bukan hujan biasa, lebih mirip badai! Udah gitu, jalanan berkabut lagi, membuat jarak pandang hanya berkisar 2-3 meter saja. Bapak benar-benar ekstra hati-hati dalam mengemudikan mobil, dan aku cuma bisa pasrah dan berdoa saja… (maklum, belum bisa nyetir mobil)

Jam 18:00 kami berhenti di SPBU Utama Raya Situbondo untuk makan malam di salah satu restoran yang ada di sana. Lalu melanjutkan perjalanan hingga berhenti lagi pukul 21:53 di pom bensin Beji (Pasuruan kayaknya) untuk istirahat. Kami bermalam di sana, tidur di dalam mobil. Sayangnya, banyak banget nyamuk, sehingga aku sama sekali ga bisa tidur.

Sekitar pukul 03:00 pagi, kami melanjutkan perjalanan, dan berhenti di pom bensin Ngawi untuk mandi dan sarapan pada pukul 07:28. Pas sampai di Sragen, kami kena tilang gara-gara plang jalan yang tidak jelas. Iya, plangnya mengatakan lurus, tapi bapak diberhentikan sama polisi karena katanya harus jalan memutar! Mana waktu itu, gak ada polisi yang jaga di persimpangan jalan, ya jadi mana kami tahu kalau gak boleh langsung lurus?!

Tak cukup itu, pas selesai ngurus tilang, ada orang naik motor menabrak mobil kami yang sedang berputar arah. Haduh-haduh, padahal udah pasang sein dan hati-hati loh! Untung si pengendara motor ga kenapa-napa, dan paling cuma lecet gara-gara jatuh doang (salah sendiri sih!). Dia yang salah, kita yang harus minta maaf, bzzzz~~~

Kami sampai di Semarang pukul 10:49, dan jam 12:00 makan nasi padang di wilayah Kendal. Tiba-tiba, saat kami berada di wilayah Batang, mobil bapak mati di tengah jalan?!?! Syukurlah ada mas-mas yang mau bantu mendorong mobil hingga ke tepi jalan. Ternyata sekring mobil putus, dan syukurlah bapak punya cadangannya sehingga cepat diganti.

Sampai di Pemalang sekitar pukul 15:48, hujan badai kembali terjadi! Tapi syukurlah kami bisa melewatinya lagi. Oh iya, sepanjang perjalanan, aku menggunakan aplikasi HERE Maps untuk Android buat offline navigasi dan peta (biar lebih irit baterai). Dan kami baru sadar kalau ternyata kami berjalan lewat jalur tengah, bukan jalur utara! Ahahaha, tapi ga apa sih, soalnya jalur pantura pasti penuh sama truk-truk besar, sedangkan lewat jalur tengah, sepiii dan lancar banget!

Dan pada akhirnya, kami sampai di rumah dengan selamat pada pukul 04:00 dini hari. Iya, benar-benar perjalanan pulang yang menegangkan dan mendebarkan! Huah, seruuu! Tapi, bapak bilang kalau itu adalah kali terakhir beliau pulang ke Bali naik mobil sendiri. Yap, gak lagi-lagi deh katanya. Dan, sampai jumpa lagi, Bali!

Salam – Agung Rangga

7 Comments on Pulang Ke Bali: Sampai Jumpa Lagi

  1. mau tanya dong aku penasaran, air sucinya itu diambil dari mana? kalo gak keberatan jawabnya ya 🙂 makasih

  2. Penasaran banget sama acara ngaben, pingin ngikutin prosesi nya dari awal ampe akhir

  3. Kayaknya mapegatannya itu pas jalan di antara dua batang pohon dapdap yang ada benang sedatunya itu yak. Kalau dulu pas saya ikut acara ngaben di Buleleng itu prosesinya benang sedatu itu kita pegang di atas lilin, terus nanti putus sendiri :hehe :peace. Tapi pastinya lega karena semua prosesi sudah selesai, dan sudah mecaru. Bhuta kalanya datang tuh, kalau bambunya meletus.

    Btw… niat banget pakai mobil, tapi keren banget perjalanannya :haha. Saya terakhir pulang naik bis, memang seru sih perjalanan darat itu, cuma pakai mobil enaknya bisa singgah-singgah, somehow kayak tirta yatra dadakan :hehe.

Apa komentarmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: