Kecanduan Media Sosial

Kecanduan Media Sosial
Kecanduan Media Sosial

Bagi saya, media sosial bagaikan pedang bermata dua. Di satu sisi memberikan banyak keuntungan, namun di sisi lain juga memberikan dampak buruk bagi saya. Apalagi, kalau sudah terjangkit kecanduan media sosial.

Media sosial merupakan salah satu sarana dalam menjalin pertemanan di dunia maya. Dengan media sosial, kita bisa berhubungan kembali dengan teman lama, mendekatkan diri dengan teman yang jauh, hingga menemukan teman baru.

Saya pun telah merasakan berbagai pengaruh positif dari media sosial. Namun saat ini, bagi saya media sosial itu sudah menjadi sebuah candu yang sangat memabukkan. Pokoknya, tiada saat tanpa mengecek media sosial, di mana saja dan kapan saja.


Awal Mengenal Media Sosial

Awal Mengenal Media Sosial
Awal Mengenal Media Sosial [sumber: unsplash.com]

Pertama kali saya mengenal media sosial itu saat masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP). Waktu itu, media sosial yang sedang ngetren adalah Friendster (ada yang pernah pakai juga?).

Pas pulang sekolah atau sedang libur, biasanya saya dan sahabat saya di GSL bakal mampir ke warnet langganan kami. Di sana, kami bisa menghabiskan waktu satu hingga dua jam untuk menggunakan Friendster.

Friendster merupakan media sosial yang sangat menarik bagi saya. Di situs ini, saya bisa mengkustomisasi halaman profil (menambahkan efek, mengubah warna, dll), menulis kata-kata bijak atau potongan lirik lagu di “shoutout” (sejenis status di Facebook), dan masih banyak lagi.

Baca juga: Ini Alasan Mengapa Saya Menyukai Tidur Siang


Mulai Rutin Menggunakan Media Sosial

Mulai Rutin Menggunakan Media Sosial
Mulai Rutin Menggunakan Media Sosial [sumber: unsplash.com]

Jika dulu ingin menggunakan Friendster harus jauh-jauh pergi ke warnet, semua berubah saat kemunculan Facebook. Saat itu, Facebook sudah memiliki situs mobile, sehingga bisa diakses di ponsel.

Kebetulan, ponsel saya sudah mendukung jaringan tercepat saat itu (3G), jadi bisa internetan tanpa kendala apapun. Setiap minggu, saya selalu menggunakan uang jajan untuk beli pulsa, yang kemudian dikonversi ke paket data internet.

Tren menggunakan Facebook pun mulai menular ke teman-teman saya. Hampir semua orang menggunakan media sosial ini. Berbeda dengan Friendster, fitur-fitur di Facebook lebih banyak dan lebih menarik.

Fitur tersebut antara lain mudahnya mencari dan menambahkan teman, bisa membuat tulisan status yang panjang, bisa membuat grup antar pengguna, bisa bermain online game dengan pengguna lain, dan masih banyak lagi. Sejak itu, Friendster pun mulai ditinggalkan gara-gara kemunculan Facebook.

Belum selesai dengan kehebohan Facebook, muncul media sosial yang menspesifikasikan dirinya sebagai “microblogging platform”, Twitter. Media sosial yang satu ini cukup berbeda dibanding Facebook.

Twitter memungkinkan penggunanya untuk saling mengikuti dengan pengguna lain, menulis “tweet” (semacam status di Facebook) yang pendek (dibatasi cuma 140 karakter), hingga menunggah foto.

Sama seperti Facebook, Twitter juga dapat diakses lewat ponsel. Teman-teman saya juga membuat akun Twitter, dan kami jadi lebih sering mengobrol di sana. Pada akhirnya, saya pun secara rutin menggunakan kedua media sosial ini.

Baca juga: Menulis Masa Lalu


Jadi Kecanduan Media Sosial

Jadi Kecanduan Media Sosial
Jadi Kecanduan Media Sosial [sumber: unsplash.com]

Sejak mengenal Facebook dan Twitter, kerjaan saya setiap hari adalah mainan ponsel. Membaca setiap update status dan tweet dari teman-teman saya, hingga saling berkomentar dan mention satu sama lain, rasanya menyenangkan sekali!

Kadang saya sampai lupa waktu jika sudah membuka kedua situs media sosial ini. Saking kecanduannya, saya pernah membawa ponsel saya dan membuka Facebook & Twitter saat sedang buang air besar! (untung ponselnya tidak pernah jatuh ke jamban…)

Apakah saya masih sering ke warnet? Tentu dong! Saya beserta teman-teman di GSL kecanduan salah satu online game di Facebook, yaitu “Pet Society”! Permainan yang sangat menggemaskan ini berhasil membuat saya pergi ke warnet seminggu sekali.

Tahun berlalu, dan saya memasuki bangku SMA. Era ponsel pintar dimulai dengan kemunculan iPhone dan ponsel berbasis Android. Media sosial baru juga mulai bermunculan, namun saya masih setia menggunakan Facebook dan Twitter.

Hingga suatu saat, muncul media sosial baru berbasis layanan berbagi foto, Instagram. Media sosial yang awalnya hanya eksklusif di iPhone, langsung saya gunakan ketika akhirnya rilis di Android.

Tak bisa dipungkiri, ternyata bermain Instagram lebih menyenangkan dibanding Facebook dan Twitter! Siapa sangka, mengunggah foto yang bisa kita ambil langsung dengan kamera ponsel lebih seru dibanding menulis status atau tweet~

Belum lagi, kita diajak kreatif dengan foto yang akan kita unggah di Instagram. Mulai dari menambahkan efek warna dengan beragam pilihan filter, merangkai “caption” (keterangan foto), hingga mengatur “hashtag” (fitur tagar agar foto kita masuk ke halaman publik).

Lalu, muncul layanan pengiriman pesan singkat secara daring, yaitu Whatsapp dan Line. Kedua aplikasi ini berhasil mengalahkan kepopuleran SMS lewat berbagai fitur dan keunggulan yang ditawarkannya.

Baca juga: Diaro – Mencatat Jurnal Jadi Lebih Mudah


Tidak Bisa Lepas dari Media Sosial

Tidak Bisa Lepas dari Media Sosial
Tidak Bisa Lepas dari Media Sosial [sumber: unsplash.com]

Seiring perkembangan teknologi, media sosial pun menjadi salah satu bagian penting dari kehidupan manusia modern. Saat ini, hampir semua orang secara rutin menggunakan media sosial, termasuk saya.

Media sosial utama yang saya pakai adalah Facebook, Twitter, dan Instagram, sedangkan layanan pesan singkat yang saya pakai adalah Whatsapp dan Line. Kelima aplikasi ini wajib terpasang di setiap gadget saya (ponsel, tablet dan laptop).

Semakin ke sini, fitur media sosial jadi semakin beragam. Sebut saja fitur “story” di Facebook, Instagram dan Whatsapp, “trending topic” di Twitter, siaran langsung di Twitter, Facebook dan Instagram, dan masih banyak lagi.

Pengguna media sosial juga sangat dinamis. Berbagai kalangan usia (dari anak kecil sampai kakek-nenek), pekerjaan, ras, agama, suku bangsa, semuanya menggunakan media sosial.

Di media sosial kita bisa dapat segala macam informasi dan hiburan. Selain itu, ada juga drama media sosial yang sayang sekali untuk dilewatkan. Berita dan kabar terbaru pun bisa didapat di sana, bahkan lebih cepat dibanding televisi atau radio (karena sifatnya yang “real time”)!

Makanya, saya sangat bahagia karena lahir di generasi yang sudah mengenal media sosial. Bayangkan saja, di jaman Bapak dan Mama saya pas masih muda dulu, mereka hanya menggunakan surat sebagai sarana berkomunikasi (di kampung tidak ada telepon).

Tapi, media sosial juga berdampak buruk bagi saya. Kecanduan saya terhadap media sosial sudah sangat akut. Setiap saat, saya lebih sering menatap layar ponsel atau laptop saya. Sudah jarang saya mengobrol, bahkan bertatap muka dengan orang lain selain keluarga dan teman GSL saya.

Waktu saya lebih banyak dihabiskan di media sosial. Otak saya terus menerus “memakan” segala informasi yang ada di sana, tanpa mengenal itu informasi baik atau buruk. Kondisi kesehatan badan saya rasanya semakin melemah gara-gara jarang digerakan, karena yang bergerak hanya jempol saja.

Pokoknya, saat ini media sosial seakan menjadi beban pikiran dan mental bagi saya. Tidak tahu apa alasannya, saya semakin muak sekaligus ketagihan dengan media sosial! Saya seperti seorang pecandu narkotika yang telah kehilangan akal sehatnya.

Baca juga: Memori Yang Hilang


Ya, saya sudah kecanduan media sosial. Sudah tidak ada jalan bagi saya untuk bisa lepas dari semua ini. Saya pun hanya bisa menatap gadget saya dengan tatapan kosong. Entah bagaimana caranya, supaya saya bisa terlepas dari jeratan setan ini.

Salam,
Agung Rangga